Green Tea
Tuhan yang beri kita rezeki, dan hanya Dia yang berkuasa mengambilnya semula.
Duit dalam genggaman kita, dalam akaun bank, dalam poket seluar mahu pun beg duit belum tentu lagi menjadi milik kita. Bila-bila saja kita mungkin kehilangannya.
Andai ditakdirkan kita mati hari ini, kita kembali kepada-Nya dengan tangan yang kosong.  Tanpa wang, tanpa harta.Semuanya milik Allah. Dan Dia berhak atas segalanya.
Allah swt berfirman :
“Dan ketahuilah bahawasanya harta dan anak itu sebagai ujian; sesungguhnya Allah pada sisi-Nya itu adalah ganjaran yang besar.” – [Surah al-Anfal : 28]
“Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” – [Al-Baqarah 2:155]
Bila diuji, bersabarlah.. dan senyumlah..
Labels: , 0 comments |
Green Tea


By Salman Al-Oadah ~ Saudi scholar

It is related that Prophet Muhammad (peace be upon him) said:
“The greatest fear I have for my community is a lesser form of polytheism… showing off.” (Ahmad)
There is nothing wrong with a believer feeling happy on account of people’s praise. It is only showing off when a person intends to do a good deed for other than God’s sake, so that he or she would not do that deed if no one else was there to see it.
Showing off takes many forms:

Showing off in One’s Faith

This is the most serious kind and it is not a “lesser” form of polytheism. Another word for it is hypocrisy. It is to profess belief to the people while concealing disbelief in one’s heart.

Showing off with One’s Appearance

This is to make oneself appear as if one is engaged in a lot of devotions, like to deliberately cultivate a prostration mark on the forehead or to make one’s lips dry so to make it seem like the lips of a fasting person.
It also includes bowing the head in false humility while walking or keeping disheveled hair to appear ascetic.

Read More here >>

Green Tea

Green Tea

Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah.Adapun keutamaan beramal di sepuluh hari pertama Dzulhijah diterangkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut,

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».


“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]

Dalil lain yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijah adalah firman Allah Ta’ala,
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2). Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[2] Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[3] Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.[4] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[5]
Lantas manakah yang lebih utama, apakah 10 hari pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad memberikan penjelasan yang bagus tentang masalah ini. Beliau rahimahullah berkata, “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).”[6]
Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arofah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadho’il yang lemah (dho’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas.[7] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”[8]
Green Tea


Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang mahsyur.  Suatu ketika dia pernah berkata ayahku  menceritakan bahawa antara Nabi-Nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi “ esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki  berbuat :
Pertama  :  apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah.
Kedua     : Engkau sembunyikan
Ketiga     : Engkau terimalah
Keempat : Jangan Engkau putuskan harapan
Kelima     : Larilah Engkau daripadanya.”
 Pada keesokan harinya Nabi itupun kaluarlah dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama yang dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata “ aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan.” Maka nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya.  Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka nabi itu pun mengambilnya lalu di suapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur ‘Alhamdulillah’.
Kemudian nabi itupun meneruskan perjalanannya dan bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan.  Lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang dan ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula  sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, “ Aku telah melaksanakan perintahMu”. Lalu dia pun meneruskan  perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.
Cappuccino

Thirteen representatives from Thajeeb tribe of Yemen, came to visit Prophet (May peace and blessings of Allah be upon him). Prophet hosted them nicely and assigned Bilal (May Allah be pleased with him) for their help. They learned many things from prophet and were ready to return to their tribe to teach them what they have learned. Prophet advised his companions to present each of them with gifts better than what he used to give to any other representative groups. He inquired if any one had left to get the gift.
“Yes, the boy who guards our vehicles outside”
“Please ask him to come over”.
They took that boy to Prophet. He introduced himself.
“I am from Abadee tribe. You have given all members of our group with whatever they need. Will you give me what I need too?”
“Indeed, What are your needs?”
My needs are different from that of my friends. Though they came out of their love for Islam, I came here so that Allah’s prophet will pray for me to get my sins forgiven, to have mercy of Allah upon me and to have Allah put contentment in my heart .
Cappuccino