Green Tea

Jihad is the apex of Islam and the positions of those who perform it are the loftiest positions in Paradise, and likewise they have a high status in the life of this world.
We all should take in the example of Muhammad, Allah's peace and blessings be upon him, for he was at the highest peak of it, for he mastered all types of it:
“He struggled (Jihad) with his heart and soul, by calling (to Islam) and proclaiming (the truth), with the sword and the spear. His hours were devoted to Jihad, which is why he was the best in all the worlds in remembering Allah and the greatest in Allah’s Estimation.”Allah, Most High commanded him to perform Jihad from the time He sent him, for He said:
“So do not obey the disbelievers, and strive against them with the Qur'an a great striving." Qur'an, 25:52
Jihad is on four levels:
1. Jihad of the self, and this is also on four levels:
”The Mujahid is one who performs Jihad of his self in obedience to Allah.” [1]
- The First: That he struggles against it by learning guidance.
- The Second: That he struggles against it by acting upon that guidance once he has learnt it.
- The Third: That he struggles against it by calling people to the guidance, for if he does not, he will be one of those who hides what Allāh has revealed.
- The Fourth: That he does so with patient perseverance in the face of the hardships which afflict one who is calling to Allāh and that he bears all of this for Allāh.
Read more here >>
Green Tea
In the Holy Qur’an, He (swt) says:
“And verily guess is no substitute for the truth.” [TMQ 53:28]
“They have no (certain) knowledge. They follow nothing but conjecture. For surely; they killed him not (‘Isa).” [TMQ 4:157]
"These are nothing but names which you have devised, you and your fathers, for which Allah has sent down no authority. They follow nothing but conjecture and what their Nafs desire. Even though there has already come to them the Guidance from their Rabb" [TMQ 53:23]
"Do you have Ilm (knowledge) for that which you claim so that you provide us with? You follow nothing but conjecture (Zann)." [TMQ 6:148]
Green Tea
Tuhan yang beri kita rezeki, dan hanya Dia yang berkuasa mengambilnya semula.
Duit dalam genggaman kita, dalam akaun bank, dalam poket seluar mahu pun beg duit belum tentu lagi menjadi milik kita. Bila-bila saja kita mungkin kehilangannya.
Andai ditakdirkan kita mati hari ini, kita kembali kepada-Nya dengan tangan yang kosong. Tanpa wang, tanpa harta.Semuanya milik Allah. Dan Dia berhak atas segalanya.
Allah swt berfirman :
“Dan ketahuilah bahawasanya harta dan anak itu sebagai ujian; sesungguhnya Allah pada sisi-Nya itu adalah ganjaran yang besar.” – [Surah al-Anfal : 28]
“Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan, dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” – [Al-Baqarah 2:155]
Bila diuji, bersabarlah.. dan senyumlah..
Green Tea
By Salman Al-Oadah ~ Saudi scholar
“The greatest fear I have for my community is a lesser form of polytheism… showing off.” (Ahmad)
There is nothing wrong with a believer feeling happy on account of people’s praise. It is only showing off when a person intends to do a good deed for other than God’s sake, so that he or she would not do that deed if no one else was there to see it.
Showing off takes many forms:
Showing off in One’s Faith
This is the most serious kind and it is not a “lesser” form of polytheism. Another word for it is hypocrisy. It is to profess belief to the people while concealing disbelief in one’s heart.
Showing off with One’s Appearance
This is to make oneself appear as if one is engaged in a lot of devotions, like to deliberately cultivate a prostration mark on the forehead or to make one’s lips dry so to make it seem like the lips of a fasting person.
It also includes bowing the head in false humility while walking or keeping disheveled hair to appear ascetic.
Green Tea
Green Tea
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah.Adapun keutamaan beramal di sepuluh hari pertama Dzulhijah diterangkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut,
« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.”[1]
Dalil lain yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijah adalah firman Allah Ta’ala,
Dalil lain yang menunjukkan keutamaan 10 hari pertama Dzulhijah adalah firman Allah Ta’ala,
وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2). Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.[2] Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.[3] Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.[4] Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.[5]
Lantas manakah yang lebih utama, apakah 10 hari pertama Dzulhijah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad memberikan penjelasan yang bagus tentang masalah ini. Beliau rahimahullah berkata, “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).”[6]
Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arofah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadho’il yang lemah (dho’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas.[7] Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”[8]

