Showing posts with label Family. Show all posts
Showing posts with label Family. Show all posts
Green Tea



-  Raghad Ebied -

We are all inevitably going to face moments of disappointment in our life – disappointments from work, family, friends, and even ourselves. That’s the very nature of the world we live in – it’s not ideal, it’s not perfect and shortcomings are bound to happen from others and from ourselves.
The question is how do we deal with these disappointments – how do we reconcile our need to have fulfilling jobs and relationships and fulfill our own promises to ourselves when we as well as others are humans who can be weak and forgetful?
How do we forgive when we’re hurt? How do we “forget” when we need to move on? How do we overcome intense feelings of disappointment and sometimes disbelief about what happens around us?
For some people, they indeed feel everything so much more intensely – including joy and sorrow, pain and relief, disappointment and awe. Maybe their tears suddenly start to flow when they see a child crying because they had to say good bye to a loved one or lost something special. Maybe they worry a lot when they hear about family or friends going through a difficult time.
An ability to feel what others feel, to know how others feel, to support others through what they feel. Cherish this blessing. Certainly, do not feel ashamed of it. And use it to bring comfort to others.These are the emotions of compassion, of empathy and of sensitivity to those around you or what some may call the “Highly sensitive person” (HSP), which is actually found in 20% of our human population. Allah has bestowed you with a blessing that you can use to bring comfort to others.
The other side of this blessing though could be your sensitivity to negativity, criticism, and disappointment. Don’t feel guilty about minimizing these situations when you can help it – and if they can’t be minimized because they are a part of your daily life with family or work for example, one can learn how to manage them.
Green Tea


Hidup berkeluarga sememangnya diimpikan oleh setiap umat Islam yang beriman. Mempunyai suami dan isteri yang dicintai di sisi adalah keinginan fitrah manusia. Setelah sahnya ijab dan kabul, maka bermula hidup berkeluarga yang penuh dengan warna dan serinya.
Selain daripada kebahagiaan yang dikecap, kita seharusnya mempersiapkan diri dengan cabaran dan ujian dalam hidup yang serba baru itu. Jika dahulu kita hidup dengan suasana bebas untuk melakukan sesuatu, tidak terikat dengan seseorang selain keluarga namun selepas berkahwin tiada lagi istilah hidup bujang.
Tanggungjawab terhadap keluarga bermula sebaik sahaja seseorang itu dikahwinkan. Bermulanya tanggungjawab terhadap isteri, mahupun suami sehinggalah kepada anak-anak. Berkahwin dan berkeluarga amat disukai Rasulullah S.A.W.
Baginda juga menyarankan agar mempunyai anak yang ramai bagi pasangan yang baik kerana dengan lahirnya ramai anak, maka lahirlah ramai penerus dan penyebar syiar Islam. Menjaga keluarga telahpun diperintahkan secara terus dari Allah S.W.T kepada kita semua. Firman Allah S.W.T:
"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak derhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (Surah At-Tahrim: 6)
"Anak yang ramai bukan semuanya jadi orang alim pun." 
Ini antara nada sinis berbaur negatif yang selalu menjadi "mind set" kebanyakan daripada kita.Kenapa tidak anak-anak menjadi soleh dan solehah? Anak-anak yang soleh solehah inilah yang akan mendoakan kesejahteraan ibu dan bapanya di alam kubur kelak. Doa mereka akan sentiasa mengiringi orang tuanya meskipun mereka telah meninggal dunia. Bukankah anak soleh dan solehah itu suatu kelebihan dan anugerah buat ibu dan bapa?

Read More here >>

Cappuccino

-by Al Ustadz Abu Ammar Abdul Adhim al-Ghoyami -

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyifati kesyirikan sebagai sesuatu yang sangat lembut dan sulit disadari adanya, sehingga ia sering kali terjadi di luar kesadaran pelakunya. Sampai-sampai beberapa ragam kesyirikan pun bisa terjadi dalam kehidupan rumah tangga dan tidak di sadari oleh keluarga tersebut. Malahan, banyak di antara kesyirikan yang sudah sangat kental dengan pola kehidupan sebagian keluarga. Berbagai kesempatan dan keadaan yang ada selalu saja mengundang terjadinya kesyirikan. Tidak hanya dalam bulan Muharrom saja, namun hampir sepanjang tahun mereka bergelut dengan kesyirikan. Naudzu billah, kita berlindung kepada Alloh azza wajalla.
Di sini akan kita sebutkan sebagian bentuk kesyirikan, khurofat dan takhayul serta kebid’ahan yang sering terjadi dalam rumah tangga. Semoga dengan mengetahuinya kita bisa menghindar darinya. Dan semoga menjadi pelajaran berharga bagi saudara-saudara kita yang mau kembali ke jalan tauhid yang lurus.
1. Keyakinan adanya hari nahas (hari sial atau hari petaka). Yaitu keyakinan bahwa pada setiap tiga bulan dalam dua belas bulan pasti ada hari-hari nahasnya. Sehingga manusia dilarang bercocok tanam, bepergian, dan mendirikan rumah pada hari-hari nahas tersebut. Sebab diyakini bila itu dilakukan maka akan celaka atau tertimpa cobaan.
2. Tumpeng robyong untuk Selamatan Penganten dan lainnya. Tumpeng robyong ialah gunungan nasi putih di puncaknya diberi telur rebus, terasi bakar, bawang merah dan cabai, semuanya ditusuk memakai bilah bambu dan cabainya diletakkan paling atas. Pada lereng tumpeng ditaruh bermacam-macam sayur (kulupan: jawa). Tumpeng ini dihidangkan untuk meminta keselamatan yang kekal.
3. Upacara tingkep atau tingkepan. Ialah serangkaian kegiatan yang melibatkan wanita hamil, orang tua bahkan mertuanya serta dukun. Upacara ini dilakukan pada usia tujuh bulan kehamilan, jatuh pada hari Rabu atau Sabtu tanggal ganjil sebelum tanggal lima belas. Si wanita hamil tersebut dimandikan dengan air yang diberi berbagai bunga, dimandikan oleh dukun atau kerabat yang paling tua, dengan gayung buah kelapa. Upacara ini disertai dengan pembuatan beberapa tumpeng dan sesajen, di antaranya ialah tumpeng robyong. Upacara yang memayahkan dan tak bisa dipahami oleh logika akal sehat ini bertujuan agar janinnya selamat dan lahir sebagai bayi yang sehat sebagaimana permintaan mereka dalam upacara tersebut. Ritual ini selain menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kesyirikan juga merupakan tradisi orang-orang musyrik terdahulu. Di negeri kita ini, khususnya di tanah Jawa, upacara ini terus diwarisi oleh sebagian masyarakat kita sampai kini.
4. Sesajen (sajian) di bawah kolong tempat tidur ibu nifas dan bayinya. Ialah berbagai sajian yang diterangi sebuah pelita kecil siang-malam, terbuat dari minyak kelapa dan seutas tali untuk sumbu. Di sampingnya ditaruh pisau atau pedang mainan, dan payung mainan terbuat dari bambu dan kertas. Dilengkapi dengan tanaman obat seperti dlingo dan bangle. Ada pula sebutir ubu yang digambari arang dan kapur sirih seperti kepala orang dengan mata melotot lebar. Semuanya diletakkan di kolong tempat tidur ibu nifas dan bayinya selama lima pekan sejak hari kelahiran. Tujuannya agar ibu dan bayinya selamat dari segala gangguan roh jahat dan segala penyakit karena telah disiapsiagakan penangkalnya, yaitu sesaji tersebut. Ini merupakan kesyirikan.
Green Tea

Marriage is never an easy thing. We think of it as this amazing romantic bliss that we will somehow attain one day.
Sisters dream of marrying that amazing brother who has the character of the Messenger of Allaah (sallAllaahu 'alayhi wa sallam), the Eemaan of Aboo Bakr, the courage of Hamzah, the wealth of 'AbdiRahmaan bin 'Awf but the fact still remains, everyone wants to marry that one truly amazing person and it is not much different for guys.
We wish to bump into a Hoor al-'Een that has lost her way from Jannah. I mean why wouldn't that ever happen? It won't happen, because you are daydreaming bro that's why.
Now wake up and listen to this short lesson in some important "Do's and Dont's" along with other useful information inshaaAllaah.

#8 AVOID FACEBOOK SPOUSES
And any other social network for that matter
Since we spend most of our time online these days, it is very easy to try to fulfil all our needs online, even the need of finding a soul mate. Now don't get me wrong, there are marriages who actually do work out, and I am not by any means hating on brothers and sisters who made it work (whatever floats your boats akhis and ukthis, just keep it halaal), but let's face it, the Internet is a very weird place.
Everyone always tries to seem holier than they really are, even a Kaafir could pretend to be Muslim scholar for all you know.  In the good old days people married other people who they actually knew, and life was much more smooth, in very broad terms.
But today you marry someone who comes across as religious online only to find out on your wedding night he isn't really that strict on Salah, oh and did I mention he has tons of friends who just happen to be girls? And not to mention he smokes (sorry forgot to tell you that too, my bad) the point is, be very careful concerning ANY online proposals.
If the person is serious and a good guy, drop them your wali's number and don't communicate with them anymore, then you'll know if the person is really a gentleman or not.
Green Tea


Jarang kita fikirkan dan ungkitkan ciri – ciri seorang suami mithali, selalu pula kita bincang pasal apa seorang isteri yang patut lakukan kepada suami dan keluarganya. Bukan sedikit tetapi banyak perkara yang menjadi tanggungjawab isteri di rumah seperti mengurus rumah, mengajar dan menjaga anak – anak, memasak,mengemas, mencuci baju juga apa yang kita suruh, si isteri akan lakukannya. Berbalik kepada suami, apa yang kita lakukan ?
1. Berpakaian kemas, bersih dan wangi untuk isteri anda. 
Bilakah kali terakhir anda beli baju tidur yang mahal ? Seperti juga kita mahukan isteri kita berpakaian cantik untuk kita, mereka juga mahukan suami mereka lakukan perkara yang sama juga. Ingat bahawa Rasullullah S.A.W. akan sentiasa menggunakan miswak (kayu sugi) apabila balik rumah dan sentiasa gemarkan bau – bauan yang wangi.
2. Menggunakan nama yang baik untuk isteri anda.
Gunalah nama yang terbaik untuk panggil isteri anda dan elakkan guna nama yang boleh buatkan hati dia terguris. Panggilan yang manja akan membuat hubungan anda sentiasa mesra.
3. Jangan layan dia seperti ‘lalat’. 
Kita tidak pernah fikirkan pasal lalat setiap hari kita kecuali bila dia datang mengganggu kita. Sama juga seperti isteri, dia telah lakukan tanggungjawab sebagai seorang isteri setiap hari tetapi kita tidak pernah menghargainya sehingga dia terbuat silap dan menyusahkan kita. Janganlah kita layan isteri seperti ini, selalulah kita ingat apa kebaikan yang isteri kita lakukan dan fokuskan tentang itu.
Cappuccino
Cappuccino


Anak adalah rezeki daripada Allah yang sudah selayaknya pasangan suami isteri bersyukur atas rezeki berkenaan. Dalam surah as-Syura ayat 49 dan 50, Allah SWT berfirman yang bermaksud: “Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Ia kehendaki. Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa yang Ia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis lelaki dan perempuan (kepada siapa yang Ia kehendaki). Dan Dia menjadikan mandul kepada siapa yang Ia kehendaki. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Antara bentuk rasa syukur adalah mengambil berat persoalan anak. Dengan demikian, terjalin hubungan harmoni dalam keluarga, lahirlah anak yang taat kepada dua ibu bapanya serta terbentuklah watak anak salih yang dapat membangunkan agama, bangsa dan negara.
Islam adalah agama yang sempurna. Islam sudah mengajar seluruh aspek kehidupan, termasuk hak anak yang perlu dipenuhi oleh kedua ibu bapa. Antara hak anak dalam Islam iaitu hendaklah mencari pasangan yang baik buat anak yang bakal dilahirkan hasil daripada perkahwinan. Rasulullah SAW sudah mengajar pemuda yang ingin berkahwin agar memilih wanita yang salihah.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Seseorang wanita itu dinikahi kerana empat perkara: kerana hartanya, kerana kedudukannya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Pilihlah wanita yang beragama, maka engkau akan beruntung – Hadis riwayat al-Bukhari.
Kedua, hendaklah membaca doa sebelum melakukan hubungan badan agar terhindar daripada gangguan syaitan. Rasulullah SAW telah mengajar kepada kita seperti dalam satu hadis Baginda bersabda: “Sekiranya seseorang di antara kamu ketika hendak mendatangi isterinya, maka hendaklah ia membaca: “Bismillah, Allahumma jannibnas Syaitana wajannibis syaitana ma razaktana. Maksudnya: Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah syaitan daripada kami dan jauhkanlah syaitan daripada apa yang Engkau rezekikan kepada kami.
Jika Allah takdirkan (dengan hubungan tersebut lahir) seorang anak, maka syaitan tidak boleh memudaratkannya.” – Riwayat al-Bukhari.
Cappuccino
- by Habib Ali Zaenal Abidin Al-Hamid -

Keluarga merupakan kelompok pertama dalam membina sebuah masyarakat harmoni, berprestasi, maju dan mempunyai kredibiliti yang tinggi. Keluarga dengan individu yang soleh akan melahirkan masyarakat yang baik, seterusnya membina ummah beretika dan berakhlak mulia. Oleh sebab itu, Islam memberi perhatian yang penuh serta bimbingan yang jelas dalam kehidupan berumah tangga secara teori atau konsep, dan juga secara praktikal.

Secara teori Allah s.w.t. berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kamu dan ahli keluargamu daripada api neraka."(At-Tahrim 66:6)

Maksud menjaga ahli keluarga adalah dengan menasihati, mengajar serta membimbing mereka agar mengetahui perintah-perintah agama dan larangan-larangannya. Seterusnya mentaati segala perintah tersebut sebagai usaha berterusan untuk selamat daripada api neraka. Dalam ayat ini, terdapat beberapa perkara yang penting:

Perintah wajib - Tidak ada perkara yang lebih wajib daripada menjaga dan menyelamatkan keluarga yang kita sayangi daripada api neraka.

Keutamaan - Mendahulukan diri sendiri dan ahli keluarga dalam penjagaan itu.

Diakui keimana - Orang yang melakukan tanggungjawab ini diakui keimanannya oleh Allah s.w.t. kerana seruan Allah dalam ayat ini adalah kepada orang-orang yang beriman.

Seruan - Ditujukan kepada orang yang bertanggungjawab ke atas ahli keluarganya, terutama suami atau ayah.

Rasulullah s.a.w. bersabda, "Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik kepada ahli keluarganya, dan aku adalah orang yang terbaik ahli kerluargaku." (Riwayat Ibnu Majah)

Hadis ini juga memberi dua maksud umtama:
- Perintah berbuat baik kepada ahli keluarga.
- Pemberitahunan bahawa Rasulullah s.a.w. model terbaik dalam membimbing keluarga.

Untuk berjaya menunaikan perintah yang pertama, hendaklah dengan melakukan juga perkara yang kedua iaitu menjadikan Rasulullah s.a.w. sebagai model dalam membina keluarga. Seterusnya membina masyarakat dan ummah yang mempunyai keperibadian mulia.

Read More here >>

Green Tea

Looking attentively to the biography of the Prophet – peace be upon him – you will find that he was extending a great deal respect to his wives and was paying high attention, care and love toward them.

He was the best example for the ideal manners toward the wife. He was comforting his wives, wiping their tears, respecting their emotions, hearing their words, caring for their complaints, alleviating their sadness, going in picnics with them, racing with them, bearing their abandonment, discussing matters with them, keeping their dignity, supporting them in emergencies, declaring his love to them and was very happy with such love. Here are some attractive examples and shining moments in his life:


Knowing their Feelings 

The Prophet – Peace be upon him – was telling Aisha – May Allah be pleased with her: "I know well when you are pleased or angry from me. Aisha replied: How you know that? He said: When you are pleased with me you swear by saying "By the God of Mohammad" but when you are angry you swear by saying "By the God of Ibrahim". She said: You are right, I just desert you name. In another narration the same tradition ended by saying: "No, by the God of Ibrahim".


Narrated by: Aisha – Degree: Right – the narrator: Muslim – The Source: Al-Musnad Al-Sahih – Page or number: 2439


Understanding their Jealousy & Love 


Umm Salama – May Allah be pleased with her – narrated: she brought food in a dish of her own to the Prophet – Peace be upon him – and his companions. Seeing that, Aisha came holding a tool and broke the dish out of jealousy. Understanding the situation, the Prophet took the two halves of the dish and said to his companions: Eat your food, it is just the jealousy of your mother, then the Prophet took the dish of Aisha and gave it to Um Salama and gave the dish of Um Salama to Aisha. 


Narrated by: Um Salama – Degree: Right – the narrator: Al-Albani – The Source: Sahih Al-Nasa'i – Page or number: 3966


Read More here >>

Cappuccino
- by Zohra Sarwari -


What are the seven highly effective habits that successful Muslim families must have?

SubhanAllaah, this could be at least 100 habits, however today we will only go over 7 of them inshAllaah.

The first most effective habit of a Muslim family should be to have tawheed in Allaah (Subhanahu Wa Ta'ala), and how to worship Allaah (Subhanahu Wa Ta'ala).  To be able to know who He is and what His characteristics are.
The second highly effective habit that every Muslim family must have is worshipping Allaah (Subhanahu Wa Ta'ala) together as a family.
The third highly effective habit that every Muslim family must have is knowing who the Prophet (SallAllaahu 'Alayhi Wa Sallam) is, and practicing his sunnah.
The fourth highly effective habit that every Muslim family must have is mercy for the young, and respect for the elders.
The fifth highly effective habit that every Muslim family must have is to listen to each other, and learn to communicate with each other.
The sixth highly effective habit that every Muslim family must have is constantly learning and growing as a family.
The seventh highly effective habit that every Muslim family must have is for them as a family to lead by example.